Moneter China.
Diskusi dengan Babo - Tanggapan lain dari postingan Marcel Yuwono.
Menurut
Bank for International Settlements, utang china tahun 2016 mencapai USD 25
triliun atau setara dengan 254 persen dari GDP. Namun angka real hutang hanya
43,9 dari GDP. Mengapa ? Karena sebagian besar itu bukan hutang konvensional
tapi hutang bagi hasil atau revenue bond ( SUKUK). Semua hutang itu tidak di
pakai untuk konsumsi seperti subsidi atau BLT, tapi di pakai untuk produksi
seperti membangun insfrastruktur ekonomi nasional yang berbasis revenue.
Dimana
rakyat membayar setiap penggunaan sarana umum yang di bangun pemerintah.
Seperti jalan toll, pelabuhan, kerata api, pasar, dan lain lain. Artinya rakyat
membayar hutang itu sendiri melalui fee yang dibayar setiap menggunakan proyek
yang di bangun dari hutang itu. Sementara hutang real yang ada sebesar 43,9 %
dari GDP, adalah hutang corporate kepada bank dalam negeri maupun luar negeri.
Untuk hutang luar negeri ini tidak di tanggung resikonya oleh pemerintah. Tapi
hutang dalam negeri pemerintah bailout.
Apakah pemerintah China sendiri
melakukan hutang luar negeri ? Tidak. Pemerintah hanya berhutang kepada
rakyatnya. Jadi benar benar republik rakyat dimana pembiayaan pembangunan dari
rakyat secara gotong royong dengan mekanisme yang modern melalui surat utang
yang teroganisir dengan baik Jadi kalau mau lihat bagaimana idiologi komunis
maka lihatlah bagaimana struktur hutang negara China.
China
menarik pajak dari rakyat kaya dan juga menerbitkan SUKUK untuk menutupi
anggaran yang defisit. Uang itu di gunakan untuk membangun Insfrastruktur
ekonomi wilayah yang miskin agar ekonomi bangkit. Pembangunan ini hanya sebagai
pemicu terjadinya geliat ekonomi. Agar mengundang pemodal datang ke wilayah
tersebut.
Pemerintah china sadar bahwa tidak semua investasi semuanya di
lakukan negara, tentu pihak swasta juga di libatkan. Tapi kemampuan swasta juga
terbatas. Umumnya hanya maksimum 10% dari total investasi. Sisanya mereka
dapatkan dari bank melalui program percepatan pembangunan. Bagaimana bank
dapatkan uang bila wilayah belum tumbuh ? Gampang!.
Pemerintah menarik dana
dari wilayah yang telah maju lebih dulu. Seperti Sanghai, Hong Kong, Shenzhen
dan lain lain. Caranya ? Pemerintah menerbitkan Revenue bond atau dalam bahasa
islami adalah SUKUK atau hutang tanpa bunga tapi bagi hasil. Mengapa orang kaya
mau membeli revenue bond ini ? Karena pemerintah memberikan insentip pajak
rendah, Sehingga revenue bond ini menjadi bunker aman dari penetapan pajak
penghasilan yang tinggi. Disamping itu bisa menjadi pasif income bagi orang
kaya.
Kemana
uang hasil penjualan revenue bond ini pergi ? Uang itu di salurkan oleh bank
sentral ke bank bank lokal. Ingat bahwa semua bank besar di China di miliki
oleh Pemerintah. Mereka di larang IPO kecuali anak perusahaan yang tak terikat
asset dengan induk perusahaan. Jadi bank itu hanya bertindak sebagai cashier
pemerintah untuk melaksanakan fungsi mereka sebagai agent pembangunan dari
negara.
Dana itulah yang di pakai bank untuk di salurkan dengan LTV 90 % kepada
pengusaha yang ingin memanfaatkan peluang investasi di daerah. Dengan struktur
permodalan yang efisien , membuat pengusaha bisa efisien dalam berproduksi dan
tentu mampu berkompetisi atas produk atau jasanya di pasar. Apabila pengusaha
untung maka tentu mereka bayar pajak. Bank juga bayar pajak. Uang pajak itulah
yang di pakai pemerintah untuk membayar revenue bond dan termasuk bagi hasil
yang dicapai oleh bank dalam menyalurkan dana kepada pengusaha.
Bagaimana
apabila pengusahaan gagal bayar utang karena rugi ? Tentu NPL bank akan
meningkat ? Pemerintah akan mem bail out hutang itu. Apakah negara rugi ? Tidak
juga. Karena walau perusahaan rugi, uang itu tetap berputar dalam negeri.
Mengapa ? Ingat bahwa China melarang rakyatnya melakukan free transfer dana
keluar negeri. Jadi walau perusahaan rugi, dana pinjaman itu tetap menimbulkan
multiflier effect ekonomi ditengah masyarakat. Sementara Asset dari debitur
akan di sita negara.
Perusahaan debitur itu akan di kelola oleh BUMN melalui
anak perusahaannya untuk di sehatkan. Kelak bila perusahaan yang disita itu
sudah sehat maka akan di jual di bursa, untuk mendapatkan capital gain dan
akhirnya perusahaan itu dimiliki publik. Kemudian, pertanyaannya dari mana
pemerintah dapatkan dana untuk bailout itu ? Pemerintah akan menerbitkan surat
utang konvensional. Surat utang ini di serap oleh rakyatnya sendiri.
Tentu
dengan iming iming yang menarik yaitu bunga diatas bunga bank dan insentip
pajak. Kalau ekonomi terus memburuk bagaimana pemerintah membayar hutang ? ya
hutang lagi kepada rakyat dengan menerbitkan surat hutang baru.
Namun
leverage pemerintah itu ada parameter yang bisa dipertanggung jawabkan. Ketika
sudah diatas ambang batas maka pemerintah akan menaikan inflasi. Caranya? gaji
dan upah di naikan. Suku bunga di turunkan agar uang membanjiri pasar. Biaya
jasa di naikan. Artinya tanpa di sadari oleh rakyat, pemerintah china menyuruh
rakyat membayar hutangnya sendiri melalui inflasi. Apakah inflasi ini buruk ?
Tidak juga.
Karena mata uang china semakin lemah terhadap mata uang asing.
Dampaknya harga barang china bersaing dengan produk impor. Barang cina
membanjiri pasar luar negeri karena murah. Pasar domestik bergairan karena
hutang konsumsi meningkat akibat suku bunga rendah. Dan dunia usaha bangkit
lagi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan mendatangkan pajak
bagi negara untuk bayar hutang kepada rakyatnya. Begitulah seterusnya.
Yang
jadi masalah setelah krisis 2008, sebetulnya mata uang china sudah sangat
rendah karena di makan inflasi. Namun negara maju sebagai pasar utama china
seperti AS dan Eropa juga lebih parah ekonominya. Dampaknya mata uang china
yang sudah terlanjur lemah akibat inflasi justru semakin menguat terhadap mata
uang asing lainnya.
Nah ini benar benar konyol bagi pemerintah china. Karena
dengan RMB yang menguat akibat krisis global berdampak harga barang china
menjadi mahal. China sulit bersaing. Di tambah lagi, daya beli pasar
international juga menyusut akibat skema berhutang untuk konsumsi di daerah
maju semakin sulit di dapat.
Lantas bagaimana caranya mengatasi situasi ini ?
Kembali China berhutang kepada rakyat lewat swap USD yang ada pada rakyat
dengan RMB. USD ini di berikan kepada AS dalam skema hutang. Tujuannya agar
ekonomi AS menguat. Dengan begitu USD akan menguat terhadap RMB.
Tapi AS
lebih cerdas atau tepatnya culas. Uang hutangan dari China sebesar USD 2
trilion , tidak di salurkan kepada rakyatnya tapi kepada perbankannya. Uang
yang mengumpul di bank ini di salurkan kepada negara emerging market dengan
bunga diatas bunga pinjaman kepada China. Perbankan AS untung.
Dan keuntungan
ini menyehatkan perbankan AS akibat kerugian krisis wallstreet yang di picu
oleh jatuhnya lehman brother. AS lebih dulu mengamankan perbankannya daripada
dunia usahanya. Mengapa ? Hukum kapitalis murni selalu membela bank agar bank
bisa berfungsi sebagai pencipta keseimbangan ekonomi. ya bank sebagai lokomotif
pertumbuhan ekonomi. Dan China kena apes karena menarik hutang dari rakyat dan
uangnya di serahkan ke AS tanpa memberikan dampak positip bagi melemahnya RMB.
Tapi
China masih punya jurus jitu, yaitu membatasi likuiditas pasar modal melalui
serangkaian kebijakan. China tahu bahwa sebagian besar yang listing di bursa
adalah perusahaan yang berafliasi dengan perusahaan asing. Kejatuhan bursa akan
mendorong induk perusahaan untuk menarik pinjaman dari negara asalnya dan ini
akan mendorong perbankan AS melakukan ekspansi.
Apabila tidak dapat dukungan
dari negara asalnya maka perusahaan itu akan di ambil alih oleh BUMN China
sampai harga terendah. Artinya china menasionalisasi perusahaan asing melalui
mekanis pasar yang dia design sendiri untuk jatuh. Dari mana uang pengambil
alihan perusahaan itu? ya dengan menjual kembali Surat utang AS yang mereka
pegang. Mungkin dengan bunga surat utang dari AS yang diterima china sudah
lebih dari cukup untuk aksi pengambil alihan itu.
Disamping itu Cina juga
mendevaluasi mata uangnya agar barang impor makin mahal sehingga sulit bersaing
dengan produksi dalam negeri. Tentu dengan devaluasi RMB berdampak buruk bagi
pemegang surat utang pemerintah yang pasti nilainya menyusut. Rakyat bisa
menerima karena sebelumnya mereka mendapatkan kelebihan uang berkat kebijakan
pemerintah. Tapi apakah ini berhasil ? tidak juga. Mata uang AS terhadap RMB
tidak berubah secara significant.
Atas
dasar itulah tahun 2010 Pemerintah focus menempatkan rakyat dalam bungker agar
terhindar dari serangan kapitalisasi pasar. Anggaran nasional di arahkan kepada
penguatan ekonomi di daerah. Ekonomi Cina harus secara bertahap mengurangi
ketergantungan dengan pasar eksport. Caranya?. Kebijakan stimulus ekonomi diarahkan
menciptakan pasar domestik yang luas dan insentif pajak bagi perusahaan besar
untuk mengalihkan pasarnya ke dalam negeri khususnya di daerah.
Pemerintahpun
merestruktur perekonomian pedesaan melalui estate food, reviltalisasi kota kota
yang miskin menjadi modern melalui restruktur perekonomian berdasarkan kearifan
lokal dan kenaikan harga penyanggah produk pertanian. Tujuannya agar pendapatan
petani meningkat dan punya daya beli. Pemerintah juga menaikan upah buruh
berlipat agar rakyat punya kemampuan belanja.
Bagaimana
dengan perusahaan besar yang sudah berkelas dunia yang tak mungkin di alihkan
pasarnya ke dometik dengan mudah? Pemerintah di garis depan melakukan kebijakan
pembiayaan investasi di negara lain. China development bank akan menanggung
pembiayaan di negara lain asalkan perusahaan china di libatkan dalam pengadaan
barang dan jasa.
China juga memperkuat Bank Exim China guna membiayai kredit
eskpor bagi perusahaanya yang mendapatkan order penjualan barang modal dan
tekhnologi ke negara lain. Dengan demikian, di samping china menyalurkan dana
yang di kumpulkan dari penjualan bond kepada rakyat, juga china mendapatkan
pasar permanen dan return atas uang yang ditanamnya. Rakyat sebagai pemegang
bond akan mendapatkan yield , perusahaan mendapatkan pasar permanen di luar
negeri dan ekonomi tetap tumbuh walau tidak setinggi ketika negara maju masih
rakus belanja.
Namun
pertumbuhan ini adalah pertumbuhan rasional. Mengapa ? Memang ekonomi tidak
tumbuh tinggi namun china mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat lebih
bik di bandingkan dengan kebijakan ekonomi berorientasi ekspor. Kini upah buruh
sudah empat kali lipat dari upah di Indonesia , harga penjualan produk
pertanian semakin tinggi, dan pajak kepada rakyat semakin rendah.
Benarkah ?
Hasil survei tingkat kepuasan rumah tangga terhadap perekonomian nasional
justru meningkat dua kali lipat. Kan lucu ? Mengapa ? Ternyata krisis ekonomi
ini mendorong terjadi migrasi besar besaran rakyat ke pedesaan dan ke daerah
yang tadinya tidak tumbuh begitu pesat. Ini terjadi karena biaya hidup dikota
semakin tinggi dan kesempatan semakin kecil. Sementara di desa semangat gotong
royong berproduksi semakin meningkat sehingga mampu menghasilkan produk murah
yang mudah diserap rakyat.
Dan mulai tahun 2017 china sudah menerapkan jaminan
sosial secara nasional yang sebelumnya tidak pernah ada.
Krisis
ekonomi telah dengan jelas mengembalikan prinsip dasar budaya China yang lebih
mengutamakan gotong royong dan kebersamaan. Cara kapitalis memang mereka terima
tadinya namun tidak membuat mereka manja sehingga meradang ketika uang semakin
sulit di dapat. Mereka tidak menyalahkan Pemerintah dan tidak pula mengutuk
sistem yang ada. Mereka berprinsip selalu ada jalan pada setiap masalah selagi
mereka bisa menerima kenyataan dan berpikir positif.
China mampu bertahan bukan
karena pemerintahnya hebat tapi karena memang rakyatnya hebat. Mereka masih
tetap percaya memegan revenue bond ( SUKUK) yang tidak menghasilkan apa apa
karena tidak ada pendapatan yang bisa dibagi. Namun mereka percaya akan ada
masanya turun tentu ada masanya naik. SIklus kehidupan selalu terjadi berulang.
Mengapa harus stress.
Yang penting tetap kerja keras, tidak lemah. Sangat
berbeda dengan negara lain di mana negara berhutang dengan rakyat negara lain
lebih besar dari hutang kepada rakyat sendiri. Kalau krisis akan menggoncang
kepercayaan asing dan membuat ekonomi lumpuh. Untunglah Indonesia dimana hutang
dengan pihak asing hanya 39% dan sisanya hutang kepada rakyat sendiri. Dan
itupun totalnya hanya 29% dari GPD ..jadi masih sangat aman.
KABAR BAIK!!!
BalasHapusNama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.
Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.
Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.
Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.
Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.
Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.