Teroris Menikam Polisi Bada Sholat Isya

Diskusi Dengan Babo - Judul asli : Dia tikam Polisi...

Ia tak gila. Atau ia bagian dari patologi yang tak tersendiri. Ia tidak berbaju gamis walau sedang di dalam masjid, namun sambil berteriak “ thagut” ia tak dikenal itu menyerang anggota polisi yang sedang menunaikan shalat Isya di Masjid Falatehan Blok M.
 Ia menggunakan sangkur dalam aksinya dan melukai dua anggota Polisi. Keduanya di larikan ke Rumah sakit. Pelaku juga sempat mengancam para anggota Brimob yang berjaga. Dia lalu berteriak 'Allahu Akbar'. Setelah diberi tembakan peringatan tidak juga menyerah maka Polisi terpaksa menembak pelaku hingga tewas. 

Pada kesan pertama, pelaku itu memang ganjil. Kekerasan dengan darah dingin di sebuah negeri yang bersendikan Pancasila dimana Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang utama. Dilakukan di tempat ibadah dimana orang datang untuk membersihkan hati. 

Bahkan dalam perang yang diajarkan Nabi, tidak di benarkan melukai musuh yang berlindung ditempat ibadah. Adakah pesan Perdamaian dibalik aksi itu ? Begitu kuatkah gerakan itu di negeri ini yang pernah dianggap tauladan negeri sejuta senyum nan ramah.

Tapi zaman berubah. Keindahan budaya teposalero, semangat yang lebih toleran, tengah surut di sebagian orang Indonesia. Teriakan “ thogut” sambil menikam petugas polisi itu berbareng dengan keruwetan jiwa yang setengah tersembunyi di sebagian masyarakat Indonesia. 

Sinting atau tidak, apa yang dilakukannya sebuah isyarat: kita tengah memasuki zaman kebakhilan. Tokoh gerakan khilafah dan pemurnian agama yang memulainya. Dari dulu sejak era Orla , Orba dan juga kini. Pelaku tak sendirian , ia mewakili jiwa mereka yang resah dan penuh paranoia dengan lingkungannya. Niat itu tidak datang begitu saja.

Ia lahir dari proses keruwetan hidup dan akhirnya melalui sosial media, lingkaran pengajian, dia menemukan dirinya. Tahu apa yang mudah menyelesaikan keruwetan hidupnya, yaitu berjihad. Tak ubahnya korban narkoba yang awalnya kehilangan dirinya dan menemukan dirinya dalam ilusi yang diciptakan racun narkotika. Keduanya berhubungan dengan fantasi.

Meskipun tak semua orang yang sepaham akan mau menikam Polisi yang sedang di dalam rumah Tuhan. Apalagi menilai kesalahan Polisi hanya karena mereka menjadi abdi negara. Bagi pelaku, rezim sekarang harus dihabisi; Rezim inilah yang dengan mudah membiarkan etnis china, terutama yang non muslim, menikmati kekayaan, sementara mayoritas muslim hidup dalam kemiskinan. 

Seorang tokoh ormas islam menyebut gagasan bela Islam bertujuan “membela Fatwa MUI. Indonesia sedang terancam oleh PKI dan etnis china, kata mereka, Indonesia sedang berubah jadi “negeri china”….Kecemasan itu adalah ekspresi kebakhilan—yang membuat pandangan Islam kembali jadi antitesis gerakan nasionalis. Inti pandangan adalah eksklusivisme. Bagi mereka, pelbagai hal di dalam hidup—lapangan kerja, bantuan sosial, peradaban islam—adalah milik eksklusif.

Eksklusivisme atau kebakhilan menampik orang lain ikut dalam ruang dan waktu, di sebuah wilayah yang batasnya mereka tentukan dan tutup sepihak. Batas itu mereka beri dasar agama; mereka menyebutnya “Syariah Islam”. Mereka anggap kebenaran dan Tuhan milik eksklusif mereka. 

Batas itu mereka beri wilayah: “Khilafah Islamiah”. Dan waktu mereka adalah waktu yang “dulu”—artinya terbatas, bukan waktu yang berlanjut dan membawa perubahan. Jarak antara kekerasan dan sikap yang tak mengizinkan perbedaan hanya terbentang beberapa senti—seperti terbukti dalam sejarah ketika dalil yang absolut dipergunakan dalam bertikai. Kita tahu, riwayat agama-agama tak bersih dari darah dan kebengisan. 

Tentu saja tak hanya agama: yang brutal terjadi tiap kali doktrin tergoda jadi totaliter, ketika ajaran dijejalkan ke segala pojok hidup dan lubuk jiwa, ketika para ahli agama—sebagaimana kaum ideolog—merasa diri jadi penyambung lidah Yang Maha Sempurna.

Yang sering diabaikan ialah bahwa tiap godaan totaliter, yang bermula dari bayangan tentang kesempurnaan, selalu berakhir sia-sia. Bayangan tentang ”yang sempurna” ini—yang oleh para psikoanalis akan disebut sebagai fantasi—pada hakikatnya lahir dan tumbuh dari rasa risau tentang dunia yang apa boleh buat cacat.

Ketika yang cacat tak kunjung dapat dihilangkan, doktrin pun membentuk diri dengan menciptakan apa saja yang harus dikutuk dan akhirnya dibinasakan: si ”thogut”, si ”fasik”, si ”murtad”, si ”kafir”, ”si komunis”. Tapi kita tahu, daftar itu tak akan habis. Masyarakat yang total tak akan pernah tercapai. ”Negara Islam” telah dicoba dalam sejarah, tapi jawaban selalu hanya sebuah iktikad baik yang mencoba-coba, yang tidak memberikan dampak positip bagi syiar islam...


1 Juni 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam

Kerakusan

Brunei Menuju Lubang Kejatuhan ?