Batam
Diskusi dengan Babo - Batam
benar benar menuju kejatuhan yang bisa dikatakan gagal sebagai Free Trade Zone.
Saat sekarang pertumbuhan ekonomi hanya 2,2%. Semakin menurunya ekonomi Batam
karena dipengaruhi oleh adanya penurunan net ekspor dan konsumsi pemerintah.
Lantas mengapa Batam sebagai FTZ sampai gagal ? Sebelum kita bahas soal gagalan
ini maka sebaiknya kita pahami dulu apa itu Free trade Zone ? FTZ adalah
kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas. Kawasan untuk industri di bidang
manufaktur ini menawarkan kemudahan yang dapat diperoleh. Mulai dari pembebasan
bebas masuk, cukai, pajak pertambahan nilai (PPN), sampai dengan pembebasan
Pajak barang mewah (PPnBM) bagi industri di sini.
Sebagaimana
kota Pelabuhan seperti Hong kong , Singapore , Panama, dll awalnya memang
berkembang karena di picu oleh regulasi adanya insentif pajak. Bebas Pajak itu
bukan untuk tujuan pasar domestik tapi sebagai pemicu terjadinya relokasi
industri dan manufaktur dari negara lain ke Batam dan kemudian diekspor lagi
sebagai sumber pendapatan devisa negara.
Dari insentif pajak ini maka Batam
akan tumbuh sebagai kota pelabuhan yang modern dengan tingkat SDM yang mumpuni
dan di lengkapi pusat industri dan manufaktur ringan, juga sebagai transhipment
barang setengah jadi untuk diolah menjadi barang jadi.
Untuk
memenuhi prasyarat sebagai FTZ maka yang paling utama adalah sistem logistik
berkelas dunia. Ketika Tanjung Palapas (Malaysia ) usai di bangun FTZ dengan
pelabuhan besar dan canggih guna menyaingi Singapore, Mahatir sempat terkejut.
Mengapa ? Tanjung Palapas jangankan bersaing dengan Singapore, bahkan semakin
memperburuk citra Malaysia karena management yang buruk.
Mahatir mencoba
mencari tahu apa penyebabnya ? ternyata management FTZ sangat lemah. Singapore
dan Hong Kong , bisa hebat karena telah terbentuk budaya menagement Pelabuhan
yang ratusan tahun sejak kedua pulau itu ditetapkan inggeris sebagai center
point. Akhirnya Mahatir menunjuk Taiwan sebagai pengelola Tanjung Palapas
dengan sistem kontrak. Setelah itu , terbukti sukses walau tidak sehebat
SIngapore.
Shenzen
pada waktu awal di bangun sempat stuck. Karena walau investasi sudah sangat
besar dibenamkan pemerintah china, namun tetap saja tidak bisa sejajar dengan
Hongkong. Investasi logistik system yang ada menjadi sia sia.
Akhirnya
pemerintah China memutuskan pada tahun 1989 Shenzhen FTZ menunjuk SPA (
Singapore ) sebagai pengelola dan sekaligus consultant pengembangan kawasan
Shenzhen sebagai FTZ. Apa yang terjadi kemudian? kini Shenzhen sudah
mengalahkan Singapore dan juga Hong Kong, Pengelolaan sudah sepenunya dibawah
eksekutif China.
Ketika
Pemerintah Soeharto menetapkan Batam sebagai FTZ , dia tidak pernah
membayangkan betapa rumitnya mengelola FTZ. Apalagi dengan birokrasi yang ala
kadarnya dan sebagian masih punya mental korup. Batam berkembang memang, tapi
terkenal di singapore tempat supir taksi cari PSK murahan. Terkenal di luar negeri
sebagai gateway nyeludupkan barang ke indonesia.
Belum lagi kecanggihan
pengusaha dalam mensiasati Batam sebagai gerbang untuk menyeludupkan barang apa
saja termasuk BBM. Dan nampaknya keadaan ini dibiarkan begitu saja. Walau
berkali kali otoritas Batam berusaha untuk mendapatkan payung hukum guna
mengawal batam dari tindak kejahatan penyeludupan namun kalah dengan lobi
pengusaha hitam di pusat maupun didaerah. Sehingga Batam cenderung menjadi
pusat berkumpulnya para bandit.
Sejak
beberapa tahun lalu ASEAN Free trade Area mulai digagas oleh negara ASEAN. Dan
saat itulah Batam tidak lagi menarik bagi investasi yang mengandalkan FTZ.
Mitra luar negeri tidak lagi melihat Batam sebagai exciting area untuk
investasi. Puncaknya tahun 2016 Indonesia menuju babak baru, era Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA). Di era perdagangan bebas ini, Indonesia harus bersaing
dengan negara lain, utamanya Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Dan
Batam sebagai FTZ memang tidak bisa lagi bersaing dan diandalkan.
Lantas
apa solusinya ? Pemerintah berencana mengubah status Batam dari kawasan
perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK). Apa itu KEK ? KEK adalah sebuah kawasan tertentu yang dinilai memiliki
kekhususan tertentu. Nah Batam harus ditentukan denga tepat apakah kekhususan
Batam sehingga pantas jadi KEK.
Ini perlu perumusan dan kajian yang tepat.
Setidaknya dibutuhkan tiga tahun masa persiapan dan tranasisi Batam dari FTZ ke
KEK. Saat sekarang sedang berproses dari desain (kelembagaan) seperti Dewan
Nasional KEK, Dewan Kawasan KEK Batam serta BP Batam sebagai Badan Usaha
Pengelola KEK sekaligus administrator.
Seharusnya
sejak digagasnya Pasar bebas ASEAN tahun 1993, Indonesia sudah harus punya visi
kedepan untuk menjadikan Batam mampu berkembang dan bersaing sebagai FTZ. Tapi
tidak ada tindakan nyata walau anggaran sangat besar di gelontorkan guna
membangun insfrastruktur. Ketika krisis moneter, tidak ada lagi upaya serius.
Selama krisimon Batam jadi jaring pengaman bagi pengusaha untuk cari untung
cepat lewat penyeludupan yang longgar. Ketika SBY terpilih secara langsung
sebagai presiden, seharusnya dia punya legitimasi kuat untuk memperkuat payung
hukum terhadap Batam agar terhindar dari sistem yang korup seperti mudahnya
celah untuk penyeludupan barang. Tapi itu tidak di lakukan.
Untunglah
Jokowi bisa bersikap tegas. Tahun 2015 masalah Batam di putuskan secara politik
untuk dibenahi dengan memberikan tugas kepada Menteri Perekonimian mengambil
langkah strategis bagi masa depan Batam…
Komentar
Posting Komentar