Tim Sinkronisasi Anies - Sandi : Pusat Hiburan Malam DKI Jakarta

Diskusi dengan Babo 
PUSAT HIBURAN MALAMSaya pernah diskusi santai dengan teman yang terlibat dalam team sinkronisasi dibawah Gubernur Terpilih DKI. Ada satu pertanyaan saya setelah dia menguraikan bagaimana seharus DKI di bangun. " 

Sebelum kita bicara tentang sosial dan politik maka sebaiknya kita harus tahu dulu sumber penerimaan DKI itu apa ? Pertanian? DKI engga ada kebun dan sawah. Tambang? DKI engga punya batubara. SDM? DKI itu sebagian besar warga pendatang. Pabrik? Sebagian besar pabrik sudah pindah ke Tangerang, Bekasi. Apa ?"

Jawabnya , "Perdagangan dan jasa." 
Pertanyaan saya lagi, apa yang memicu sehingga Jakarta bisa menjadi kota dagang dan Jasa ? Shanghai jadi pusat kota dagang dan jasa, karena pariwista dan jasa financial center. Hong Kong dan Singapore, menjadi kota jasa dan perdagangan, karena hub Pelabuhan , jasa keuangan dan Pariwisata. Jakarta apa yang memicu ?

"Mengapa ?
"Kita tidak akan bisa mendesign model pembangunan atau bisnis kalau kita engga mengetahui secara pasti apa yang jadi pemicu terjadinya bisnis dan jasa itu. Ini prinsip berpikir sederhana. Karena setiap wilayah dan kota punya potensi dan setiap potensi belum tentu bisa jadi sumber kekuatan. Karena banyak faktor yang mempengaruhi. Bisa karena resource yang terbatas, bisa juga karena faktor kompetisi dan lain sebagainnya sehingga potensi itu tidak bisa dijadikan pemicu."

"Ya Pariwisata "Jawabnya.
" Tepat sekali. Jakarta itu yang paling tepat saat sekarang adalah menjadi kota wisata. Walau Jasa Keuangan belum bisa diandalkan karena insfrastruktur bisnis sebagai hub financial center kita tidak mendukung. Kota pelabuhan? Belum juga bisa diandalkan. Karena layanan logistik Tanjung Priok masih hitungan hari Dwelling Time dan Waiting Time nya sementara Singapore dan Hongkong sudah hitungan jam. 

Jadi pariwista adalah menjadi pemicu lahirnya bisnis perdagangan dan jasa. Nah kalau sudah diketahui sebagai kota wista, wisata apa ? Produk wisata yang laku dijual apa ? WIsata budaya ? Jakarta engga punya lagi budaya lokal yang punya nilai eksotik untuk dijual. Wisata seni ? jakarta engga punya pusat seni yang hebat, bahkan kota ini walau ia jadi ibu kota tidak punya pusat theater semegah Hong Kong atau sydney. "

Dia terdiam. Saya katakan, Wisata bisnis dan hiburan malam. Wisatawan dari Indonesia dan luar negeri datang ke jakarta kebanyakan karena motive bisnis yang tidak ada kaitannya langsung dengan perdagangan dan jasa. Dan kalau karena itu deal terjadi dalam bisnis maka itu hanya efek sampingan dari adanya wisata hiburan malam. Engga usah di tanggapi terlalu berlebihan secara moral. Ini adalah fakta yang ada. Bangkok engga malu kok dibilang sebagai kota yang menjadikan sex sebagai industri. 

Kota besar di China, sebelum tumbuh dan besar adalah kota wisata malam kok. Tapi by process mereka bisa menghilangkan image itu dengan meningkatkan kualitas wisata menjadi wisata pure business yang bersandarkan sebagai Hub Perdagangan international yang didukung oleh sektor jasa di bidang logistik dan Keuangan. Tapi dalam jangka pendek sebagai pemicu ya night life atau night entertainment "

Kalau ingin menjadikan Jakarta sebagai kota wisata bisnis, maka lingkungannya juga mendukung. Jangan sampai Jakarta hanya jadi kota "bedeng " yang konsumennya kelas "bedeng" dengan sarana ala kadarnya. Kalau itu dilakukan maka Jakarta tidak akan jadi magnit datangnya pebisnis tapi hanya preman saja. "

" Jadi bagaimana ?
" Apa yang dilakukan Ahok, patut ditiru, yaitu dia focus menjadikan jakarta sebagai pusat jasa dengan jaminan sistem pengelolaan pemerintah yang cepat dan pelayanan yang murah. Menciptakan lingkungan kota yang berkelas dunia dengan menghapus image jakarta big village melalui program relokasi ke pusat pertumbuhan baru yang diatur dalam tata ruang kota. 

Melakukan social engineering dalam setiap kebijakannya agar jakarta focus sebagai kota jasa. Dengan demikian dia menghapus semua pusat wisata hiburan yang hanya menampung konsumen kelas "bedeng" seperti Kalijodoh. Mengapa ? agar semua aktifitas wisata itu menjadi sumber pendapatan daerah melalui jaringan pajak online. Pajak hiburan, pajak hotel, pajak restoran, pajak makan dan minuman. Dan itu pusat hiburan malamnya harus berkelas dunia. "

Dari wisata malam inilah akan lahir derivate bisnis lain secara meluas. Karena ada uang yang berputar secara tunai setiap hari begitu besarnya sehingga para mereka yang bersinggungan dengan bisnis wisata itu menjadi pemicu bergeraknya investasi akan kebutuhan pasar yang modern, apartemen, Hotel, dan bisnis kreatif lainnya. Ekonomi akan bergerak.

Dari supir taksi, ojek, pedagang , pengelola restoran, pengelola hotel, dan lain lain akan kecipratan uang yang mengalir deras dari adanya wisata malam itu. Dan pemda akan mendapatkan pajak untuk memperkuat APBD melaksanakan fungsi sosial dan politiknya agar dalam jangka panjang Jakarta bisa menjadi kota pure wisata bisnis yang didukung oleh insfrastruktur bisnis berkelas dunia di bidang Logistik, Keuangan dan jasa perdagangan ( world trade center dan fair trader center).

Kemarin saya baca berita , Sandi mengusulkan bekas pulau hasil reklamasi yang diambil alih Pemda DKI karena menang di pengadilan, untuk dijadikan pusat wisata yang berbasis hiburan night life atau night entertainment. Sandi mungkin ingin mencontoh Ginting di Malaysia atau Sentosa island di Singapre , yang punya pusat hiburan malam yang tentu menyadiakan judi dan sex. Tapi keliatanya Sudirman Said yang juga orang PKS dengan tegas menyatakan belum ada rencana. 

Tapi saya yakin sebagai orang bisnis ,Sandi tahu pasti bahwa tidak ada program bisa jalan tanpa ada financial resource dan itu harus ada revenue. Tanpa revenue tidak ada program sosial bisa jalan. Dan saya yakin juga, bahwa semua ormas Islam dan Parpol Islam akan mudah di yakinkan karena mereka mendukung Anies dan Sandi kok...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam

Kerakusan

Brunei Menuju Lubang Kejatuhan ?