Rekayasa sosial

Diskusi dengan Babo - Tahun 2000 di kawasan industri Dongguan , China, hampir semua penduduk kota hidup dari industri sex. Mengapa saya katakan industri ? karena di kelola dengan cara profesional dari segi pelayanan sampai kepada sistem pengadaan jasa itu sendiri. Apapun jenis hiburan malam dan imajinasi sex di jual di sini.

Di perkirakan lebih dua juta pekerja yang terlibat dalam industri sex. Bandingkan dengan jakarta yang berjumlah 670.000 pekerja. Siapa konsumennya ? hampir 90% adalah orang asing yang punya pabrik di kawasan tersebut, yang dari tahun ketahun terus meningkat jumlahnya. Karena program relokasi pabrik dari Taiwan, Jepang, Korea terjadi massive. Dan mereka cenderung memilih Dongguan.

Ketika itu saya sempat tanya kepada pejabat China, “ mengapa pemerintah membiarkan prostitusi itu berkembang? 
“ China tidak menganut defisit anggaran. Jadi kalau kami punya APBN hanya mampu mensejahterakan 50% rakyat, ya udah, itu aja kami urus. Kami engga akan berhutang untuk menutupi defisit anggaran itu. 

“ Bagaimana dengan nasip 50% itu? 
“ Mereka punya Tuhan dan tentu Tuhan lebih tahu bagaimana membuat mereka hidup.” 
“ Dan prostitusi itu adalah solusi dari Tuhan? 

“ saya tidak tahu. Yang penting kondisi ini harus diterima sebagai suatu kodrat sosial tanpa harus mengumpatnya dan menutup mata pada sudut pandang yang lain.” Katanya sambil ketawa. “ tapi setiap orang lahir kedunia punya resource private untuk dia bisa survival. Ada yang bertahan karena akalnya, ada yang bertahan karena phisiknya, ada yang bertahan karena ilmunya dan ada yang bertahan karena skill nya. Semua itu ada pada manusia. Dan lingkungan hanya memberikan pilihan kepada manusia. Dan pemerintah memberikan kebebasan soal itu. Hanya itu yang bisa pemerintah berikan ditengah keterbatas anggaran” Lanjutnya dengan sikap pragmatis.

Tapi apa yang terjadi setelah 10 tahun kemudian? Industri sex di Dongguan semakin meredub karena semakin luasnya kesempatan kerja akibat tumbuh dan berkembangnya industri ringan di kawasan itu. Semakin tinggi nilai tukar pekerjaan di sektor lain dibandingkan prostitusi. Pada waktu bersamaan secara berlahan namun pasti pemerintah lokal melakukan social engineering melalui kebijakan yang lembut.

Setiap pengunjung kawasan yang masuk ke tempat hiburan di wajibkan meninggalkan KTP. CCTV di pasang di semua tempat. Data pengunjung dan CCTV dapat diakses melalui jaringan egoverment. Sehingga siapapun bisa mengakses nya secara online. Rasa malu dipupuk dan karena itu orang mulai berpikir berkali kali kalau ingin berkunjung ke kawasan sex Dongguan.

Tahun 2013, Pemerintah menyatakan bahwa prostitusi di Dongguan ilegal. Mengapa ? karena pemerintah sudah punya anggaran cukup untuk mengurus seluruh penduduk Dongguan. Darimana dananya ? ya dari pajak rakyat. Pejabat China yang saya temui di tahun 2000 sudah pensiun. Saya berkesempatan bertemu lagi dengan dia tahun 2014 dalam salah satu acara di Shenzhen. 

Menurutnya apa yang terjadi di Dongguan dan juga kota kota besar yang ada di china, di bangun dengan pendekatan realistis. Bahwa satu satunya yang membuat rakyat itu bisa bertahan hidup adalah kebebasan. Ketika kita tidak punya kemampuan mengarahkan apa pilihan terbaik bagi mereka maka memberi kebebasan kepada mereka itu adalah lebih baik. Namun ketika kita mampu secara ekonomi maka kita punya tanggung jawab untuk mengarahkan kebebasan mereka kepada hal yang positip.

Membangun peradaban bukanlah sekali jalan langsung beres. Tidak ada yang utopia. Tapi adalah proses kerja keras dan melelahkan dengan korban tidak sedikit dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang penting proses itu harus berjalan dengan akal sehat dan memastikan ada kemajuan walau sejengkal. 

Karenanya penghambat kemajuan itu adalah hidup rakus yang ditandai kemalasan dan korup, itulah yang harus diperangi agar dari setiap phase perubahan bergerak kedepan, bukannya malah mundur. Dongguan dan juga juga kota kota lain di china tidak akan bisa berubah seperti sekarang kalau pejabatnya korup dan rakyatnya malas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam

Kerakusan

Brunei Menuju Lubang Kejatuhan ?