Tidak ada yang mudah

Diskusi dengan Babo - Di zaman kini—persisnya di zaman ketika sekelompok orang berkata bila kelompoknya memimpin negeri ini maka semua akan makmur sejahtera karena Negara menjamin kebebasan setiap orang belanja dengan murah dan karena itu negara mensubsidi kebutuhan umum public. Mereka tidak paham bila kini nilai uang dan emas tergantung CDS. Mereka tidak mau tahu bahwa sumberdaya alam itu hanya potensi ekonomi bukan potensi financial. Tanpa keberanian menghadang resiko, dan kerja keras, potensi ekonomi tidak bernilai financial.

Karena iman, pertolongan Allah akan datang. Itu semua mudah, katanya. Benar , bahwa mukjizat tak pernah datang tanpa mengecoh. Manusia punya kemampuan besar untuk membentuk khayal jadi janji—dan mempercayai janji itu setelah mengemasnya dengan ”iman” atau ”dalil". Di zaman ”iman”, orang percaya akan Kanjeng Dimas yang tiba tiba dari mesin uang melalui kharamahnya mampu mendatangkan uang berlipat. 

Yang percaya bukan hanya Udin yang tak pernah sekolah, juga seorang phd mantan Anggota DPR percaya bahkan ada dibalik aksi Kanjeng Dimas. Ada ustadz yang menjadikan iman sebagai seni bertransaksi dengan Tuhan agar cepat kaya. Kanjeng Dimas dan juga si Ustadz itu memang piawai menerapkan seni semacam Bernard Lawrence Madoff yang menarik uang dari jamaah gereja dengan janji mendatangkan laba berlipat dalam seni humanitarian capitalism berbungkus Iman.

Tapi, untunglah, tak semua dan tak selamanya orang teperdaya. Mukjizat hanya laris ketika yang terkecoh dan yang mengecoh bersatu, ketika ada hasrat yang diam-diam mencekam, agar hari ini yang terpuruk dapat ditinggalkan dengan jaminan Tuhan akan kemakmuran dibawah Syariah. Padahal, sejarah tak pernah mencatat seperti itu. 

Hasrat buat mendatangkan mukjizat selamanya gagal, bahkan ketika ia didukung ”iman” yang bergabung dengan ”dalil”. Contoh yang terkenal adalah cerita Trofim Lysenko di Uni Soviet di masa kekuasaan Stalin. Pada 1927, dalam usia 29, anak petani Ukraina yang pernah belajar di Institut Pertanian Kiev ini bisa mengubah padang gersang Transkaukasus jadi hijau di musim dingin, hingga ternak tak akan punah karena kurang pangan, dan petani Turki akan mampu hidup sepanjang musim salju tanpa gemetar menghadapi hari esok”.

Lysenko mengklaim ia mampu membuat keajaiban itu. Partai yang berkuasa mendukungnya, dan Stalin mendekingnya. Tak seorang pakar pertanian pun yang berani membantah. Sejak 1935, Lysenko bahkan diangkat ke jabatan yang penting: memimpin Akademi Ilmu-ilmu Pertanian. Baru pada 1964, hampir sedasawarsa setelah Stalin mangkat, ilmuwan terkemuka Andrei Shakarov secara terbuka mengecamnya: Lysenko-lah yang bertanggung jawab atas kemunduran yang memalukan bidang biologi Uni Soviet, karena ”penyebaran pandangan pseudo-ilmiah”, bahkan penyingkiran dan pembunuhan para ilmuwan yang sejati.

Kehendak untuk mukjizat acap kali berkaitan dengan hasrat untuk super-kuasa: ”iman” atau ”dalil” seakan-akan bisa membawa seseorang ke sana. Itu sebabnya mukjizat yang mengecoh tak hanya terbatas pada kasus macam Lysenko. Tujuh juta orang katanya percaya bahwa aksi demo super damai itu dikawal Malaikat, sehingga hujan di halau jauh dari jakarta agar peserta aksi tidak kebasahan. Pemimpin demo dipercaya sebagai pemilik cahaya Rasul. Namun apa yang terjadi? pemimpin aksi lebih memilih lari dari kasus daripada menghadapinya.

Ada contoh lain dari Cina. Menjelang akhir 1950-an, Mao Zedong—yang beriman kepada sosialismenya sendiri dan merasa sosialisme itu ”ilmiah”—menggerakkan rakyat di bawah kekuasaannya agar membuat ”loncatan jauh ke depan”. Mao ingin agar Cina yang ”terkebelakang” akan dengan waktu beberapa tahun jadi sebuah negeri industri yang setarap Inggris. Hasilnya: industri baja yang tak bermutu dan pertanian yang gagal dengan korban jutaan petani mati kelaparan.

Keinginan untuk mendapatkan mukjizat mungkin sebanding dengan tingkat putus asa yang menghantui mereka yang mendambakan kharamah Kanjeng Dimas. Magnit Kanjeng Dimas dan Ustadz itu terjadi di tengah Indonesia menghadapi krisis moneter dan maraknya orang kaya baru dari bisnis rente. Kita tahu, kesengsaraan itu juga tanda ketidakadilan. Dan memang tak mudah buat bersabar ditengah ketidak-adilan itu. 

Maoisme berangkat dari kehendak melawan kapitalisme, dengan rencana yang cepat dan tepat. Tapi apa yang tepat dan mudah dalam sejarah yang senantiasa hanya melahirkan penderitaan diatas kemakmuran segelintir orang. Baik ”iman” maupun ”dalil” acap kali membuat semuanya nampak mudah diselesaikan padahal ia adalah bagian seni menipu terbaik dihadapan orang dungu.

Tentu saja harus dicatat: Indonesia hari ini bukan Uni Soviet di masa Lysenko, bukan pula Cina di masa Mao. Di sini retorika iman dan ilmu tak dibiarkan memegang monopoli. Informasi mengalir leluasa, pertanyaan dan keraguan dengan bebas dinyatakan, dan tiap pengetahuan diperlakukan hanya sampai kepada tingkat pengetahuan, bukan kebenaran. 

Dan di sini, bahkan kantor kepresidenan tak bisa dan tak hendak membungkam perdebatan. Jokowi tidak bicara mukjizat tapi proses kerja keras mengikuti sunattullah , dan dari sana dia membangun inspirasi untuk orang percaya dan berubah, bahwa tidak ada yang mudah.
Pahamkan sayang..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batam

Kerakusan

Brunei Menuju Lubang Kejatuhan ?