Kerakusan
Diskusi Dengan Babo
Tahun 80 an ada film
yang berjudul Wall street. Film ini diangkat dari berbagai sumber kisah nyata,
kisah insider trading, tokoh raksasa kejam semacam Gecko yang hanya peduli
meraup uang besar dalam waktu singkat, dan juga intrik pasar saham semuanya memang
ada. Karakter Gecko sendiri konon dibuat untuk menggambarkan tokoh semacam Carl
Icahn, Ivan Boesky, Michael Milken, dan lain lainnya.
Pemerhati Buffett mungkin
kenal dengan Boesky, ia dikenal sebagai lawan Buffett dalam mengakuisi Scott
& Fraser, perusahaan penerbit World Book Encyclopedia. Manajemen Scott
& Fraser lebih memilih Buffett sebagai sosok pelindung manajemen daripada
Boesky yang perusak. Milken dikenal sebagai raja obligasi sampah (junk bond),
ia dihukum 10 tahun dalam kasus insider trading. Stone, sang sutradara ,
katanya membuat film ini juga sebagai dedikasi untuk ayahnya, seorang pialang
saham di era Great Depression.
Kisah yang diangkat
film ini merupakan sisi buruk pasar investasi di bursa. Semua orang mungkin
akan berusaha menghindari kejahatan finansial seperti yang terjadi di film ini.
Tapi ironinya, kita selama ini mendapatkan konsep besar bahwa untuk kaya dalam
berinvestasi adalah dengan cara yang digambarkan di film Wall Street ini. Tiap
kali ”kapitalisme” tampak guncang dan buruk, tiap kali Wall Street terbentur,
cara menyederhanakan soal, menampilkan dahsyatnya keserakahan manusia.
Di sana
Gekko, diperankan Michael Douglas, menegaskan dalilnya: rakus itu bagus. ”Rakus
itu benar. Rakus itu membawa hasil. Rakus itu… menandai gerak maju manusia.”
Tapi rakus adalah fiil pribadi-pribadi, sementara ”kapitalisme” tak cukup bisa
dikoreksi dengan membuat orang insaf. Rakus juga bisa lahir di luar Wall
Street. Ia tak hanya melahirkan ”kapitalisme”.
Memang ada sesuatu yang
amat rumit hari-hari ini. Seperti mantra, seperti makian, kata ”kapitalisme”
kini meyakinkan hanya karena dampaknya bagi pendengar, bukan karena definisinya
yang persis. Juga kata ”sosialisme”. Juga kata ”pasar”, ”Negara”, dan lain-lain
yang tak berseliweran di antara kita. Kita sering tak menyimak, pengertian itu
sekarang pada retak, nyaris rontok. Setidaknya sejak Juli 2008 yang lalu.
Majalah The Economist melukiskan adegan dramatik yang terjadi di pusat
kekuasaan Amerika Serikat, negara kapitalis papan atas itu: ”Pada 13 Juli, Hank
Paulson, Menteri Keuangan Amerika, berdiri di tangga departemennya seakan-akan
ia menteri sebuah negara dengan ekonomi pasar yang baru timbul….”
Hari itu Paulson,
pembantu Presiden Bush, mengungkapkan rencana daruratnya buat menyelamatkan
Fannie Mae dan Freddie Mac, dua bisnis raksasa dalam bidang pendanaan hipotek
yang tak mampu lagi membayar kewajibannya US$ 5,2 triliun. Pemerintah memakai
kata ”conservator-ship”. Pemerintah AS mengambil alih perusahaan itu—kata lain
dari ”nasionalisasi”, sebuah langkah yang mirip apa yang pernah dilakukan di
Indonesia dan akhir-akhir ini di Venezuela.
Tapi ini terjadi di suatu masa, di
suatu tempat, di mana ”pasar” dianggap punya daya memecahkan persoalannya
sendiri. Ini terjadi di sebuah era yang masih meneruskan fatwa Milton Friedman
bahwa ”penyelesaian oleh Pemerintah terhadap satu soal biasanya sama buruk
dengan soal itu sendiri”.
Ini terjadi di sebuah perekonomian—disebut
”kapitalisme”—yang prinsipnya adalah siapa yang mau ambil untung harus berani
menerima kemungkinan jatuh. Jika para direksi dan pemegang saham siap menyepak
ke sana-kemari meraih laba di pasar, kenapa kini mereka harus dilindungi ketika
tangan itu patah? Di situlah ”kapitalisme” meninggalkan prinsipnya sendiri.
Tapi tak berarti
”kapitalisme” di Amerika berhenti sejenak. Memang tindakan nasionalisasi di
sana—terakhir dilakukan terhadap perusahaan asuransi raksasa AIG (American
International Group)—menunjukkan kian besarnya peran ”Negara” dalam
perekonomian Bush. Namun kita perlu lebih saksama. Sebab yang terjadi
sebenarnya sebuah simbiosis yang tak selamanya diakui antara ”Negara” dan
”pasar”. ”Nasionalisasi” terhadap Fannie dan Freddie berarti sebuah langkah
menyelamatkan sejumlah pemain pasar dengan dana yang dipungut dari pajak
rakyat.
Dengan kata lain: yang dilakukan Pemerintah Bush adalah sebuah
”pemerataan” kerugian, bukan ”pemerataan” hak. Hubungan simbiosis antara kedua
perusahaan itu dan ”Negara” juga bisa dilihat dari segi lain: menurut laporan
CNN, selama 10 tahun, Fannie dan Freddie mengeluarkan US$ 174 juta untuk melobi
para politikus, untuk membangun ”iklim politik” yang ramah kepada
mereka—termasuk ketika tanda-tanda keambrukan sudah terasa.
Tapi jika ”Negara” dan
”kapital”, ”pemerintah” dan ”pasar” ternyata tak sepenuhnya lagi bisa dipisahkan
dengan jelas, apa yang luar biasa? Bukankah sejak abad ke-19 Marx menunjukkan
bahwa ”Negara” selamanya adalah sebuah kekuasaan yang memihak kelas yang
berkuasa? Dikatakan secara lain, bukankah ”Negara” tak hanya terdiri atas
”apa”, melainkan ”siapa”? Tapi persoalan tak selesai hanya dengan satu tesis
Marx. Sejarah politik makin tak mudah menentukan bagaimana sebuah kelas sosial
merumuskan identitasnya—terutama ketika kaum pekerja bisa tampil lebih ”kolot”
ketimbang kelompok sosial yang lain, dan ”ketidakadilan” tak hanya menyangkut
ketimpangan dalam memiliki alat produksi.
Mau tak mau, para analis dan pakar
teori harus berhenti seperti beo yang pintar, dan berhenti memakai mantra dan
makian ketika ”kapitalisme” dan ”sosialisme” begitu gampang dikatakan. Itu tak
berarti api awal yang dulu membakar perang purba itu, perang yang melahirkan
mantra dan makian itu, telah sirna.
Selama ketidakadilan
menandai rasa sakit sejarah, api itu masih akan membakar dan perang masih akan
berlangsung. Selama sejarah belum berakhir dalam mengisi pengertian yang
disebut Etienne Balibar sebagai égaliberté, paduan antara ”keadilan” dan
”kebebasan”, perang tak akan padam. Perang itu, tak selamanya dengan darah dan
besi, adalah perjuangan politik.
Ketidakadilan tak bisa hanya bisa diselesaikan
dengan administrasi, karena administrasi ”Negara” selamanya akan terbatas dan
terdorong ke arah pola yang cepat jadi aus. Ketidakadilan juga tak akan bisa
diselesaikan dengan perbaikan budi pekerti, dengan mengubah atau mengalahkan orang
macam Gekko. Apalagi pergulatan ke arah keadilan dan kebebasan tak hanya
terbatas dengan mengutuk Wall Street. Kita tak cukup jadi Oliver Stone.
Konsep bahwa agar
sukses kita harus melakukan apa saja buy low sell high, created the Future of
an Illusion and take upfront. Sebetulnya tak perlu harus melakukan insider
trading. Ada begitu banyak investor yang sukses bahkan dengan metodologi
konservatif, hati-hati, cenderungnya memang perlahan dan membosankan. Untuk
menjadi sukses seperti Buffett pun tak perlu harus melanggar aturan.
Dalam
lanjutan film yang diluncurkan tahun 2010, money never sleep , Stone tetap
mengangkat kisah yang mirip, dan tentu sudah tidak terlalu fantastis lagi. Tapi
itulah pasar investasi. Media tetap menceritakan kisah pertarungan dan balapan
yang sama. Buku-buku investasi diterbitkan lebih berisi tentang peramalan dan
mengalahkan pasar daripada buku mempelajari bisnis yang baik yang berlandaskan
kepada kerja keras dengan produk inovasi dan pabrik terbangun. Dunia investasi
'papers " memang pada akhirnya membuat dunia terjerat krisis financial
karenanya.
Padahal sumber masalah
finansial dunia mungkin bukan di sana. Masalah financial adalah KERAKUSAN .
Ketika orang meng create ilusi lewat produk investasi yang menjanjikan masa
depan tanpa kerja keras dengan laba berlipat, saat itulah komunitas rakus yang
pemalas terbentuk, kelak mereka akan berurai air mata dan terkapar diladang
pembataian..wallstreet tetap berwajah zombi namun akan selalu mengundang orang
untuk mendekat.
Karenanya sebaiknya, jangan terjebak dengan kekayaan tanpa
kerja keras. Karena ini akan membuatmu menikmati hidup tanpa nurani.Punya ilmu
tanpa kemanusiaan. Memiliki pengatahuan tanpa karakter. Berpolitik tanpa
prinsip. Melakukan bisnis tanpa moralitas dan pasti beribadah tanpa
pengorbanan. Jangan takut dengan bisnis yang harus kerja keras walau hasilnya
lambat yang kadang harus menghadang resiko, karena dari itu kamu akan tahu arti
bersyukur dan tahu arti mencitai kehidupan ..
Pahamkan sayang..
Komentar
Posting Komentar