Business Model Jokowi.
Diskusi Dengan Babo - Bisnis model Presiden Indonesia Joko Widodo
Dalam
suatu acara investment expose yang di lakukan Jokowi di Beijing pada pertemuan
Puncak KTT APEC 2014, saya sempat bertemu dengan teman yang kebetulan ikut
dalam undangan tersebut, dia mengatakan bahwa “ Saya tidak melihat seorang
presiden yang duduk diatas Balkon istana megah atau Bankir yang duduk di kamar
kerja mewah atau Jenderal Lima bintang yang doyan di hormati atau Politisi yang
selalu menjaga citra politik. Tidak.
Saya melihat diatas panggung seorang
Salesman yang punya mental entrepreneurship yang sangat kuat, dan yakin dengan
sesuatu yang diatawarkannya. Dan yang lebih penting lagi dia tahu bagaimana
menjual secara efektif yang bukan hanya mendapatkan nilai jual yang tinggi tapi
juga mendapatkan dukungan dari stakeholder.
“Lantas
apa yang ditawarkan oleh Jokowi sehingga anda punya pendapat seperti itu? Tanya
saya. Dengan tersenyum dia mengatakan bahwa ada tiga hal yang ditawarkan tapi
sebetulnya targetnya hanya satu. Dan satu itulah yang prioritas dan realistis
dengan kondisi Indonesia sekarang juga dunia. “
“ Apa
itu ?
“ Ada
tiga program yang diusungnya. Pertama adalah koneksitas antar wilayah harus
terjadi. Apapun dia akan lakukan agar insfrastruktur ekonomi dibangun secara
meluas. Kedua, issue maritim dimana Indonesia akan menegakan hukum di laut
secara konsisten. Ketiga, pengembangan produk yang punya daya saing dan
berdampak luas di masyakarat.
Dari ketiga program ini, yang paling realistis
ketika dia mengekspose tentang Pariwisata sebagai produk jasa Indonesia..
Inilah sebetulnya agenda utamanya yang bisa langsung di rasakan rakyat. Karena
program lainnya tentu berdampak jangka panjang baru akan dirasakan, khususnya
industri.”
Kemarin
saya bertemu dengan mitra saya dari luar negeri yang sedang memproses investasi
kawasan wisata di Bali, Singaraja. Data International dari business plan yang
dibuat oleh Konsultan international menunjukan data yang membuat saya terkejut.
Betapa tidak? tahun 2014 penerimaan devisa negara disektor wisata mencapai US$
10,69 miliar atau setara dengan Rp 136 triliun. Tahun 2016 mencapai Rp 184
triliun atau naik diatas 20% sejak tahun 2014.
Pertumbuhan
penerimaan devisa pariwisata tertinggi, dibandingkan industri minyak gas bumi,
batubara, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif. Penyumbang 9,8
juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4% secara nasional. Tahun 2016 tingkat
kunjungan wisman tembus diatas 10 juta. Ini tidak pernah terjadi di enam
Presiden sebelumnya.
Dari data ini nampak Jokowi berada dijalur yang benar
ditengah kondisi pasar global yang tidak mendukung pertumbuhan ekonomi atas
komoditas tradisional Indonesia. Bayangkan kalau resource negara di focus
kepada sektor komoditas tradisional tentu uang diatas lebih RP. 1000 triliun
dalam APBN akan terbuang sia sia, bahkan berdampak semakin rentanya fundamental
ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan
yang tinggi di sektor pariwisata itu tidak datang begitu saja. Tapi membutuhkan
proses kerja keras yang luar biasa serta penuh resiko moneter dan fiskal. Dalam
hal kebijakan Visa, bila tahun 2014 hanya berlaku untuk 45 negara bebas Visa,
dan kini telah mencapai 169 negara. Revitalisasi Bandara di wilayah potensi
wisata di Indonesia dilakukan secara meluas berstandar international. Anda akan
terkejut melihat gate imigrasi di wilayah perbatasan Indonesia , yang dulu seperti
kantor kelurahan tapi sekarang berkelas international.
Realisasi
investasi dari tahun 2014 sampai dengan 2016 di luar jawa mencapai pertumbuhan
54% dan di jawa mencapai 22%. Saat kini telah dibangun Kawasan Ekonomi Khusus.
Ada Tanjung Lesung (Banten), Morotai (Maluku Utara), Mandalika (Nusa Tenggara
Barat), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung). Yang dalam focus pengembangan
adalah KEK Nusa Tenggara Timur; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; dan Bunaken,
Sulawesi Utara.
Hal tersebut seiring membaiknya index daya saing pariwisata
Indonesia di tingkat regional dan international yang naik sebesar 5,1% di
tingkat ASEAN dan 4,4% di tingkat dunia. Sementara Malaysia turun 7,1%,
Singapore turun 0,9%, Peringkat daya saing indonesia tingkat dunia urutan ke 47
mengalahkan Thailand di posisi 83 dan Malaysia 96.
Kalau
melihat grand nasional atas prioritas pembangunan Pariwista sampai dengan tahun
2019 maka target mencapai 20 juta kunjungan wisata dengan tingkat perolehan
devisa terbesar dan mungkin mengalahkan sektor migas dan industri, bukanlah
mimpi. Karena trend pertumbuhannya dari tahun ketahun sangat significant.
Dan
harus di ingat bahwa pertumbuhan ekonomi dalam menampung angkatan kerja yang di
picu oleh sektor pariwisata sangat efisien. Pariwisata pencipta lapangan kerja
termurah yaitu dengan US$ 5.000/satu pekerjaaan, dibanding rata-rata industri
lainnya sebesar US$ 100.000/satu pekerjaan.
Sebagai
pengusaha Jokowi memang smart dan mental itu dia terapkan dalam menentukan
business model yang tepat. Dengan daya dukung ekonomi terbatas dia tahu
bagaimana mengelola sumber daya terbatas itu untuk menghasilkan revenue terbaik
dan efisien.
Dengan strategi seperti itu dia bisa tegas mempertahankan
kedaulatan indonesia di bidang SDA di darat maupun di laut. Karena dia tahu pengelola
SDA bertumpu dengan modal dan tidak ada kesejahteraan rakyat bila lokomotive
ekonomi tergantung terhadap modal apalagi asing. Dari bisnis parisiwata inilah
akan berkembang bisnis kreatif berskala UKM secara massive dan melibatkan
angkatan kerja luas...
Pahamkan
sayang...
Komentar
Posting Komentar