Brunei Menuju Lubang Kejatuhan ?
Diskusi Dengan Babo
Waktu di
Kuala Lumpur minggu lalu , ketika sahur saya ngobrol dengan tamu hotel yang
berasal dari Brunei. Kami kenalan dan semakin akrab karena dia mengenal banker
yang saya sebut sebagai sahabat yang pernah berkarir sebagai GM Baiduri Bank,
Brunei. Menurutnya Brunei sedang berada di putaran krisis yang menuju lubang
spiral yang tak berujung. Saat sekarang difisit APBN Brunei telah mencapai 16
%.
Bandingkan dengan Yunani yang dinyatakan negara bangkrut karena difisit
anggaran mencapai 15,7%. Walau kini Brunei nampak baik dipermukaan namun
didalamnya sangat rapuh. Banyak asset Sultan yang nilainya USD 27 miliar di
gadaikan atua dijual ke pihak lain untuk mengalirkan cash flow kedalam anggaran
Brunei. Hanya masalah waktu asset ini akan habis karena saat sekarang menjual
asset tidak mudah. Ada harga tapi susah pembeli.
Apa
penyebabnya ? Menurutnya karena 90% penerimaan negara berasal dari Minyak.
Karena harga minyak dan gas terus turun maka PDP Brunei dari tahun ketahun
sejak 2008 terus kontraksi. Sementara penerimaan dari Pajak tidak ada. Karena
Kesultanan tidak menerapkan pajak penghasilan dan penjualan. 402.000 Penduduk
Bruney bukan asset negara.
Mereka adalah beban. Karena 80% mereka jadi PNS
namun posisi akhli tetap di pegang asing. Kegiatan dunia usaha sangat kecil
sekali perannya dalam PDP. Investor asing yang masuk masih terbatas pada MIGAS.
Tingkat kemudahan berusaha di Brunei anjlok sampai ke peringkat 84 di Dunia.
Jauh dari negara negara ASIA Pacific.
Dulu,
katanya , ketika harga minyak masih normal dan tinggi, Brunei menempati urutan
ke 4 negara dengan tingkat PDP perkapita tertinggi didunia. Karena pendapatan
yang melimpah itu maka kontrak sosial Kesultanan kepada rakyat di laksanakan
secara luas. Rakyat dapat bagian dari kemelimpahan; jaminan pendidikan gratis
sampai universitas. Kesehatan yang gratis. Subsidi perumahan yang besar.
Jaminan biaya hidup bagi pengangguran. Namun keluarga mendapatkan banyak.
Bahkan keluarga sultan masuk 25 orang terkaya di dunia dengan kehidupan Istana
yang punya ratusan harem dari manca negara. Namun Rakyat tidak peduli.
Tapi
saat-saat yang indah penuh pesta telah lama berlalu: Harga global untuk satu
barel minyak telah anjlok 40 persen sejak Januari 2015 dan 78 persen sejak
nilai puncaknya pada tahun 2008. Penghasilan dari hidrokarbon terdiri dari 90
persen pendapatan pemerintah - karena pendapatan pemerintah tersebut telah
turun sekitar 70 persen dibandingkan dengan tahun fiskal 2012/2013.
Meskipun
telah memangkas anggaran $ 6,4 miliar pada 2015/2016 sekitar 4 persen
dibandingkan tahun lalu, pemotongan pengeluaran lebih banyak akan terus
menggelembung disemua sektor. Ini pilihan sulit. Tapi seperti Sultan masih
berharap harga minyak terus membaik. Makanya bukannya melakukan diversifikasi
bisnis tapi justru semakin menambah kapasitas produksi MIGAS.
Peluang
investasi jasa seperti Perhotelan tidak menarik orang asing untuk datang.
Karena larangan miras dan hiburan. Sektor perbankan syariah tidak bisa
berkembang di sana karena krediti konsumsi yang lesu darah akibat harga barang
yang melambung. Maklum Brunei mematok kurs sama dengan Sing Dollar. Semakin
melemah dollar singapore semakin mahal harga barang. Makanya banyak tenaga
kerja asing yang hengkang dari Brunei dan tenaga kerja lokal yang akhli juga
pindah ketempat lain yang memberikan pendapatan lebih baik dan living cost yang
murah.
Kontrak
sosial sebagai cara mempertahanan kekuasan dari rakyat yang botol (bodoh dan
tolol ) tak akan bisa terus dipertahankan karena semakin lama defisit anggaran
semakin melebar. Pemotongan anggaran sosial tentu akan menjadi api dalam sekam.
Kapan saja bisa membuat rakyat marah. Karena mereka terbiasa disuapi , bukan
hidup dari kreatifitas semangat juang memberikan kontribusi nyata kepada
negara. Sementara gaya hidup keluarga sultan tidak berubah.
Di luar negeri
mereka hidup glamor bagaikan selebritis. Sudah saatnya Sultan harus menjelaskan
kepada rakyatnya soal perlunya reformasi anggaran kepada rakyatnya. Apakah
mungkin. Ataukah terus bertahan sampai tidak ada lagi income untuk mengongkosi
rakyat yang manja dan negara bubar dengan sendirinya karena gelombang demokrasi
yang memaksa sultan angkat kaki..
“ Mereka
( Keluaga Sultan ) tidak pernah berpikir sedang mengelola negara tapi mengelola
King incorporation. Semua resource milik negara yang juga otomatis milik
Keluarga Sultan. Sementara Syariah islam dan ulama hanya di jadikan tameng agar
rakyat tetap patuh kepada Sultan. Taat kepada pemimpin adalah soal aqidah.
Melanggar itu akan masuk neraka atau dianggap kafir. Ya hanya masalah waktu,
Brunei akan menjadi Icon betapa buruknya kekuasaan absolut hanya karena orang
mengaku wakil Tuhan untuk menguasai semua sumberdaya tanpa ada transfaransi..”
Komentar
Posting Komentar